BERAU, JB.ONLINE – Megah saat dibangun, tetapi kini justru menyisakan tanda tanya. Lampu penerangan di Jembatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, yang disebut menelan anggaran sekitar Rp2,8 miliar, kini dikeluhkan warga karena tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Jembatan yang seharusnya menjadi salah satu wajah kawasan Gunung Tabur pada malam hari itu kini justru tampak suram dan gelap. Lampu-lampu yang sebelumnya menjadi bagian dari penerangan dan estetika jembatan disebut tidak lagi terlihat menyala, bahkan kondisinya dinilai memunculkan pertanyaan serius mengenai pemeliharaan aset daerah.
Keluhan warga bukan semata soal lampu yang mati. Persoalannya lebih jauh: untuk apa anggaran miliaran rupiah digelontorkan jika setelah proyek selesai fasilitas tersebut tidak dirawat dan akhirnya kehilangan fungsi?
“Kalau memang anggarannya sampai miliaran, seharusnya ada pemeliharaan. Jangan setelah selesai dibangun kemudian dibiarkan begitu saja,” keluh seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena fasilitas publik menggunakan uang negara. Pemerintah daerah semestinya tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan adanya pemeliharaan, pengawasan dan keberlanjutan fungsi aset.
Nilai anggaran sekitar Rp2,8 miliar tentu bukan angka kecil. Di tengah berbagai kebutuhan masyarakat yang masih menunggu perhatian pemerintah, penggunaan anggaran sebesar itu semestinya menghasilkan fasilitas yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Apakah fasilitas tersebut masih dalam masa pemeliharaan kontraktor atau sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai kritik semata. Ini merupakan bentuk kontrol publik terhadap penggunaan anggaran daerah.
Kondisi lampu Jembatan Gunung Tabur juga memperlihatkan persoalan klasik dalam pengelolaan fasilitas publik: pembangunan dikejar, tetapi pemeliharaan sering terlupakan.
Pemerintah Kabupaten Berau melalui dinas teknis terkait perlu memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat mengenai status fasilitas penerangan tersebut.
Jika masih menjadi tanggung jawab kontraktor, jelaskan status masa pemeliharaannya.
Jika sudah menjadi aset pemerintah daerah, jelaskan siapa OPD penanggung jawab dan kapan perbaikannya dilakukan.
Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan jawaban normatif sementara kondisi di lapangan tetap gelap.
Dinas teknis dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas fasilitas tersebut juga patut turun langsung melakukan pengecekan.
Penerangan jembatan bukan hanya persoalan estetika. Pada malam hari, pencahayaan juga berkaitan dengan kenyamanan dan keamanan pengguna jalan, terutama pengendara yang melintas.
Publik tentu berharap uang rakyat yang telah digunakan untuk membangun fasilitas tersebut tidak berakhir menjadi proyek yang indah di awal, tetapi gelap dalam pemanfaatannya.
Pemerintah Kabupaten Berau perlu membuktikan bahwa pembangunan dengan anggaran miliaran rupiah tidak berhenti pada seremoni dan dokumentasi peresmian.
Sebab pertanggungjawaban pemerintah bukan hanya ketika proyek selesai dibangun.
Pertanggungjawaban sesungguhnya adalah ketika fasilitas tersebut tetap berfungsi dan dirawat setelah uang rakyat dibelanjakan.
Hingga berita ini diterbitkan, JB.ONLINE masih berupaya meminta konfirmasi kepada pemerintah daerah dan dinas terkait mengenai nilai pasti anggaran, pihak pelaksana, status masa pemeliharaan, penyebab matinya penerangan, serta rencana perbaikan lampu Jembatan Gunung Tabur.
Jika pemerintah dan dinas terkait memiliki penjelasan maupun data berbeda, JB.ONLINE membuka ruang hak jawab dan klarifikasi sebagai bagian dari prinsip keberimbangan jurnalistik.
“Adm”

