Upacara 17 Agustus Ditiadakan di Teluk Bayur, Kecamatan Sebut Efisiensi Anggaran dan Keterbatasan Dana

Jurnalisberau.online Teluk Bayur — Semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Teluk Bayur tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Upacara 17 Agustus yang biasanya dapat digelar meriah dengan melibatkan masyarakat di kawasan lapangan sepak bola lama, tahun ini tidak dilaksanakan.

‎‎Keputusan tersebut sempat menjadi pertanyaan di tengah masyarakat. Terlebih, lapangan sepak bola lama selama ini dikenal sebagai salah satu ruang publik yang mampu menjadi pusat keramaian ketika momentum 17 Agustus tiba.

‎Menyikapi hal tersebut, pihak Kecamatan Teluk Bayur akhirnya memberikan penjelasan. Menurut pihak kecamatan, keputusan meniadakan pelaksanaan upacara tingkat kecamatan tahun ini telah melalui berbagai pertimbangan, terutama keterbatasan anggaran, efisiensi, kesiapan lokasi, serta padatnya agenda yang harus diikuti Kecamatan Teluk Bayur dalam rangkaian kegiatan Kabupaten Berau.

‎‎Terkait kondisi lapangan sepak bola lama yang selama ini menjadi salah satu lokasi kegiatan masyarakat, pihak Kecamatan Teluk Bayur menyebut kawasan tersebut merupakan bagian dari kawasan kota tua dan ke depan akan mendapatkan perhatian untuk pembenahan.

‎‎“Namanya kota tua, saya katakan tadi, nanti akan dibenahi ke depan bersama teman-teman pariwisata,” demikian penjelasan pihak Kecamatan Teluk Bayur.

‎Pernyataan tersebut sekaligus membuka harapan bahwa kawasan yang selama ini menjadi bagian dari sejarah dan aktivitas masyarakat Teluk Bayur tidak dibiarkan begitu saja.

‎‎Namun demikian, masyarakat tentu masih menunggu realisasi konkret dari rencana pembenahan tersebut.

‎‎Sebab, bagi masyarakat, lapangan sepak bola lama bukan hanya persoalan fasilitas olahraga. Tempat tersebut telah menjadi bagian dari ruang sosial dan sejarah Teluk Bayur, termasuk dalam pelaksanaan berbagai kegiatan masyarakat dan peringatan kemerdekaan.

‎Bukan Tidak Ingin Meriah, Kecamatan Mengaku Terbentur Anggaran

Pihak kecamatan menjelaskan, sebelumnya panitia sempat mempertimbangkan penggunaan stadion mini untuk pelaksanaan upacara.

‎‎Namun, stadion tersebut sedang digunakan oleh Paskibraka Kabupaten Berau untuk kegiatan pelatihan dan persiapan lainnya. Bahkan, para peserta Paskibraka disebut menggunakan fasilitas tersebut selama proses persiapan. Kondisi itu kemudian menjadi salah satu pertimbangan kecamatan.

‎Menurut pihak kecamatan, apabila upacara tetap dipaksakan dengan kondisi anggaran yang terbatas, pelaksanaan justru dikhawatirkan tidak maksimal.

‎Jumlah personel Paskibraka juga menjadi persoalan. Untuk membuat upacara terlihat maksimal, dibutuhkan jumlah personel yang lebih banyak, sementara penambahan personel tersebut tentu membutuhkan anggaran.

‎“Kalau kami paksakan, itu nanti teman-teman Paskibraka tidak akan maksimal. Kalau hanya tiga atau empat orang, rasanya tidak cocok untuk upacara 17-an,” jelas pihak Kecamatan Teluk Bayur.

‎Pihak kecamatan juga menyebut jumlah peserta upacara biasanya dapat mencapai sekitar 1.000 orang. Namun apabila dilaksanakan tahun ini, jumlah tersebut harus dibatasi karena konsekuensi biaya konsumsi dan kebutuhan kegiatan lainnya.

‎‎Kecamatan Teluk Bayur juga mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi salah satu pertimbangan paling utama.

‎Pihak kecamatan tidak ingin memaksakan sebuah kegiatan agar terlihat meriah, tetapi kemudian justru meninggalkan persoalan keuangan atau utang-piutang yang harus ditanggung setelah kegiatan selesai.

‎‎Menurut kecamatan, meminta dukungan dari perusahaan maupun masyarakat juga tidak semudah sebelumnya. Ada kekhawatiran permintaan sumbangan justru dipersepsikan sebagai pungutan atau bentuk pemanfaatan terhadap perusahaan maupun masyarakat.

‎‎“Kami juga menjaga. Jadi kami pikir untuk tahun ini ditiadakan dulu karena situasi dan kondisi, di samping masalah anggaran juga ada pertimbangan-pertimbangan lain,” ujar pihak kecamatan.

‎Alasan tersebut menjadi dasar bagi Kecamatan Teluk Bayur untuk mengambil keputusan bahwa pelaksanaan upacara tingkat kecamatan tahun ini tidak perlu dipaksakan. Pawai Tetap Berjalan, Tetapi Bukan Dibiayai Kecamatan

Meski upacara tingkat kecamatan ditiadakan, pihak Kecamatan Teluk Bayur menegaskan bahwa sejumlah kegiatan kemerdekaan tetap berjalan.

‎Salah satunya adalah pawai yang disebut dilaksanakan oleh Karang Taruna dan kalangan pemuda, bukan menggunakan anggaran Kecamatan Teluk Bayur.

‎Bahkan, pihak kecamatan menyebut anggaran kecamatan untuk kegiatan pawai tersebut nol rupiah.

‎Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran memang menjadi persoalan yang cukup serius dalam menentukan skala kegiatan di tingkat kecamatan.

‎Di sisi lain, Kecamatan Teluk Bayur juga harus menyiapkan anggaran dan sumber daya untuk berbagai agenda lain yang berkaitan dengan kegiatan Kabupaten Berau.

‎Pihak kecamatan menyebut masih terdapat sejumlah kegiatan kabupaten yang harus diikuti, sehingga anggaran tidak bisa seluruhnya diarahkan untuk satu kegiatan. ‎Kecamatan Mengaku Sudah Melakukan Kajian

‎Pihak Kecamatan Teluk Bayur menegaskan keputusan tersebut bukan diambil secara mendadak.

‎Menurut mereka, berbagai aspek telah dikaji sebelum keputusan diambil, mulai dari anggaran, efisiensi, kesiapan lokasi, jumlah peserta, Paskibraka, konsumsi hingga agenda lain yang harus diikuti kecamatan.

‎“Kita sebelum mengambil keputusan itu semuanya kita kaji,” demikian penjelasan pihak kecamatan.

‎Kecamatan juga menyebut telah berkomunikasi dengan berbagai pihak dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Namun pihak kecamatan mengakui bahwa tidak semua masyarakat akan menerima keputusan tersebut. Tetap Ada Upacara, Tetapi Tidak di Teluk Bayur

‎Peniadaan upacara tingkat kecamatan bukan berarti tidak ada kegiatan upacara yang diikuti unsur pemerintahan Teluk Bayur.

‎Pihak kecamatan menjelaskan bahwa mereka tetap mengikuti undangan upacara tingkat kabupaten yang dilaksanakan bersama Bupati Berau.

‎Sementara itu, Kapolsek Teluk Bayur disebut mendapatkan undangan untuk menjadi inspektur upacara di Kampung Labuhan Jaya dan Makmur.

‎‎Artinya, momentum peringatan kemerdekaan tetap berlangsung, namun tidak dalam bentuk upacara besar tingkat Kecamatan Teluk Bayur seperti yang selama ini dinantikan sebagian masyarakat. Publik Tetap Berhak Bertanya

‎Penjelasan Kecamatan Teluk Bayur patut menjadi bagian dari pemberitaan agar masyarakat mendapatkan gambaran utuh mengenai alasan di balik keputusan tersebut.

‎Namun, di sisi lain, pertanyaan masyarakat juga tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.

‎‎Sebab, yang dipertanyakan bukan hanya soal ada atau tidaknya upacara. Yang menjadi perhatian adalah mengapa sebuah tradisi yang selama bertahun-tahun mampu menghadirkan keramaian dan kebersamaan masyarakat Teluk Bayur, tahun ini harus dihentikan.

‎‎Efisiensi anggaran memang penting. Tetapi pemerintah juga dituntut mampu menjelaskan kepada publik bagaimana efisiensi tersebut diterapkan, apa dampaknya terhadap pelayanan dan kegiatan masyarakat, serta bagaimana strategi ke depan agar keterbatasan anggaran tidak otomatis mematikan ruang-ruang kebersamaan warga.

‎Terlebih, pihak kecamatan sendiri telah menyampaikan bahwa kawasan kota tua dan lapangan lama tersebut ke depan akan dibenahi bersama pihak pariwisata.

‎Masyarakat kini tentu menunggu: kapan pembenahan itu benar-benar diwujudkan?

‎Jangan sampai lapangan lama hanya menjadi tempat yang dikenang setiap kali 17 Agustus tiba, sementara ruang publiknya perlahan kehilangan fungsi dan keramaiannya.

‎Teluk Bayur boleh melakukan efisiensi, tetapi semangat kemerdekaan dan ruang kebersamaan masyarakat jangan sampai ikut menjadi korban.

‎Media ini telah memuat penjelasan dari pihak Kecamatan Teluk Bayur sebagai bagian dari keberimbangan pemberitaan.

 

“Rudi’S”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *