Berau Jurnalisberauonline — Pemadaman listrik bergilir yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Berau menuai keresahan masyarakat. Bukan hanya karena aktivitas rumah tangga dan usaha terganggu, tetapi ketidakpastian waktu pemadaman membuat warga kesulitan mengatur pekerjaan, perangkat elektronik, hingga aktivitas ekonomi.
Persoalannya bukan semata listrik padam. Yang menjadi sorotan adalah pola pemadaman yang berulang dan jadwal yang dinilai tidak pasti. Masyarakat dipaksa beradaptasi dengan kondisi listrik yang bisa menyala lalu kembali padam tanpa kepastian.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap berbagai peralatan elektronik di rumah maupun tempat usaha. Televisi, kulkas, komputer, mesin pompa air, perangkat jaringan internet, hingga peralatan elektronik lainnya berpotensi mengalami gangguan apabila terjadi pemadaman dan penyalaan kembali secara tiba-tiba.
Terlebih, masyarakat mengeluhkan kondisi listrik yang kembali menyala dengan tegangan yang tidak stabil. Kondisi seperti ini perlu mendapat perhatian serius karena fluktuasi tegangan dapat berisiko terhadap perangkat elektronik.
PLN sebagai penyedia tenaga listrik tentu tidak cukup hanya memberikan alasan teknis mengenai pemadaman. Masyarakat membutuhkan kepastian, transparansi, dan pelayanan yang dapat diandalkan.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan masyarakat Berau harus terus menerima kondisi listrik yang padam berulang kali tanpa kepastian?
Pemadaman mungkin dapat terjadi karena gangguan jaringan, pemeliharaan, keterbatasan sistem, maupun faktor lainnya. Namun, apabila kondisi tersebut berlangsung berulang, publik berhak mendapatkan penjelasan yang terang: apa penyebabnya, wilayah mana yang terdampak, berapa lama pemadaman berlangsung, dan apa langkah PLN untuk mencegah kejadian serupa terus berulang?
Sebab bagi masyarakat, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan. Listrik menjadi kebutuhan dasar yang menopang aktivitas rumah tangga, pendidikan, pelayanan publik, komunikasi, perdagangan, usaha kecil hingga kegiatan industri.
Pedagang dan pelaku UMKM bisa kehilangan waktu produksi. Warga yang bekerja menggunakan perangkat elektronik ikut terganggu. Anak-anak yang belajar pada malam hari terdampak. Bahkan perangkat elektronik yang dibeli dengan biaya tidak sedikit ikut berada dalam risiko ketika pasokan listrik tidak stabil.
Jangan sampai masyarakat hanya diminta memahami kondisi PLN, sementara PLN tidak cukup menjelaskan kondisi yang dihadapi masyarakat.
Jika pemadaman memang tidak dapat dihindari, maka komunikasi kepada pelanggan harus jelas dan terbuka. Jika terdapat persoalan kapasitas atau infrastruktur, masyarakat berhak mengetahui langkah konkret yang dilakukan untuk memperbaikinya. PLN Berau perlu menjawab keresahan publik secara terbuka.
Apa penyebab pemadaman bergilir? Mengapa jadwalnya tidak selalu dapat dipastikan? Bagaimana PLN menjamin kestabilan tegangan saat listrik kembali menyala? Dan apa mekanisme perlindungan atau penanganan bagi pelanggan yang mengalami kerusakan peralatan akibat gangguan kualitas listrik?Jangan sampai persoalan listrik berubah menjadi persoalan kepercayaan.
Masyarakat Berau tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya membutuhkan listrik yang stabil, informasi yang jelas, dan pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kini bola berada di tangan PLN.
Jika pemadaman memang harus terjadi, jelaskan. Jika ada gangguan, perbaiki. Jika ada risiko terhadap pelanggan, berikan perlindungan. Jangan biarkan masyarakat terus berada dalam ketidakpastian.

