BERAU, JB.online – Kabupaten Berau kembali dilanda kabut asap meski hujan sempat mengguyur sejumlah wilayah pada malam sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab asap yang masih menyelimuti wilayah tersebut serta efektivitas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hujan yang turun semalam sempat memberikan harapan bagi masyarakat agar kualitas udara membaik. Namun, kemunculan kembali kabut asap menunjukkan bahwa persoalan asap di Berau belum sepenuhnya teratasi.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan instansi terkait, terutama dalam memastikan sumber asap, memantau kualitas udara, serta mengantisipasi dampak yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Jika kabut asap berkaitan dengan karhutla, penanganan tidak cukup hanya mengandalkan turunnya hujan. Pemantauan titik panas (hotspot), pemeriksaan lokasi kebakaran, serta upaya pemadaman dan pencegahan harus tetap dilakukan secara konsisten.
Kembalinya kabut asap juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Pemerintah melalui instansi terkait perlu menyampaikan informasi kualitas udara secara terbuka agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat. Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi terkait perlu memastikan apakah kabut asap berasal dari kebakaran yang masih berlangsung, asap kiriman dari wilayah lain, atau sumber lainnya.
Pertanyaan yang kini perlu dijawab adalah mengapa kabut asap kembali menyelimuti Berau meski hujan sempat turun. Hujan tidak selalu mampu memadamkan seluruh titik api, terutama jika masih terdapat bara di bawah permukaan tanah atau kebakaran terjadi di lokasi yang sulit dijangkau.
Namun, penyebab pasti kemunculan kembali kabut asap harus dipastikan melalui pemeriksaan lapangan dan data kualitas udara, bukan sekadar dugaan.
Pemerintah daerah juga perlu memberikan penjelasan mengenai perkembangan penanganan karhutla, kondisi terkini titik panas, serta langkah konkret untuk mencegah kabut asap terus berulang.
Masyarakat tentu berharap hujan bukan sekadar memberi kelegaan sesaat, sementara persoalan asap kembali muncul keesokan harinya.
Kabut asap yang kembali menyelimuti Berau menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla dan perlindungan kualitas udara harus dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat membutuhkan udara yang aman, informasi yang transparan, serta langkah nyata dari pihak-pihak yang bertanggung jawab.
“Adm”

