Ratusan Ikan Mati Mendadak di Bujangga, Diskan Berau Ungkap Penyebabnya

BERAU JB.ONLINE — Ramainya pemberitaan terkait kematian ratusan ekor ikan secara mendadak di kawasan Bujangga, Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, mendapat respons cepat dari Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau.

‎Hasil pemeriksaan yang dilakukan di lokasi menyebutkan, kematian ikan tidak disebabkan oleh serangan penyakit menular. Diskan Berau mengindikasikan penyebab utama kematian ikan adalah penurunan kualitas air akibat penumpukan limbah rumah tangga ketika kondisi air sungai sedang surut.

‎Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau, Budiono, mengatakan pihaknya telah turun langsung ke lokasi pada Selasa (8/9/2026) untuk mengambil sampel ikan dan air guna mengetahui penyebab kematian tersebut.

‎Berdasarkan pemeriksaan awal secara in situ, parameter kualitas air di sekitar Sungai Berau secara umum masih berada dalam standar baku mutu. Namun, kondisi berbeda ditemukan pada titik tertentu di sekitar karamba yang terdampak.

‎“Analisis kami menunjukkan hal ini terjadi karena posisi karamba berada tepat di muara buangan limbah rumah tangga di bawah jembatan,” ungkap Budiono, Rabu (9/9/2026).

‎Menurutnya, kondisi air sungai yang sedang surut membuat debit dan volume air berkurang secara signifikan. Dalam kondisi tersebut, bahan organik dari limbah rumah tangga berpotensi mengalami penumpukan sehingga memengaruhi kualitas air di sekitar karamba.

‎Penurunan kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) serta perubahan tingkat keasaman (pH) secara ekstrem diduga menjadi faktor yang menyebabkan ikan tidak mampu bertahan.

‎Kondisi tersebut mengakibatkan sekitar 500 ekor ikan mati dalam kurun waktu tiga hari.

‎Diskan Berau menegaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan awal, kematian ikan tersebut bukan merupakan indikasi wabah penyakit menular. Salah satu pertimbangannya adalah pola kematian yang hanya terjadi pada satu karamba.

‎“Kalau karena penyakit, biasanya kematian berlangsung berturut-turut dengan gejala klinis tertentu. Sementara kalau karena kualitas air, ikan akan mati serentak,” jelas Budiono.

‎Ia menambahkan, karamba yang mengalami kematian ikan merupakan milik Pak Basri yang berada di kawasan Bujangga. Sementara karamba lain yang berada berdampingan di sekitar lokasi dilaporkan tidak mengalami kejadian serupa.

‎“Buktinya, ikan di karamba-karamba lain yang berdampingan persis di sebelah milik Pak Basri kondisinya aman,” katanya.

‎Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa faktor lingkungan setempat menjadi pemicu utama kematian ikan, khususnya kondisi kualitas air di sekitar titik pembuangan limbah rumah tangga.

‎Meski demikian, persoalan ini menjadi perhatian karena keberadaan pembuangan limbah rumah tangga yang bermuara ke sungai berpotensi memengaruhi ekosistem perairan apabila tidak dikelola dengan baik.

‎Peristiwa kematian ratusan ikan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas lingkungan perairan sangat bergantung pada pengelolaan limbah di kawasan permukiman, terutama ketika debit air sungai menurun akibat kondisi surut.

‎Diskan Berau memastikan penanganan dan pemantauan terhadap kondisi perairan akan menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi di lokasi lain.

 

“Rudi’S”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *